CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

........

   

Image Hosted by ImageShack.us

Selasa, 26 Mei 2009

Slapur

Slapur adalah SAYA!

Slapur itu bukan hanya nama sebuah sekolah yang berada di pinggiran jalan utama yang menghubungkan antara pasuruan dan lawang. Ada tanah, air dan udara di dalamnya. Ada budaya, dan ada juga sejarah yang membentuk slapur seperti sekarang ini. Sejarah yang (mungkin) penuh dengan kontroversi, dan terkadang disertai dengan menetesnya keringat dan air mata.

Slapur pun adalah SAYA. SAYA pula yang akan menentukan kemana sekolah ini akan dibawa. SAYA pula yang menentukan bagaimana wajah slapur di mata dunia.

Tidak percaya? Berikut ini adalah salah satu contohnya.

Ketika ada sebuah surat kaleng yang mendiskreditkan slapur beberapa tahun yang lalu, sebagian alumnus mengalami keresahan yang luar biasa. Maklum, banyak dari alumnus yang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan slapur. Para orang tua murid ikut-ikutan khawatir, takut hal yang ditorehkan di surat kaleng itu terjadi pada anak-anak mereka. Bahkan, ada yang sempat berpikir untuk menarik anaknya dari Slapur.

Melihat kondisi di atas, saya pun sebenarnya memiliki kekhawatiran yang sama. Untungnya, sekelompok alumnus menyempatkan diri untuk meng-counter isi surat kaleng tersebut. Dan informasi ini pula yang bisa menentramkan hati saya saat itu. Jika hati saya bisa tentram hanya karena sebuah informasi, maka kemungkinan yang sama pun akan berlaku kepada orang lain. Itu pikiran saya saat itu.

Tapi, pisau yang sudah terlanjur ditancapkan pada sebatang kayu, akan meninggalkan bekas. Sedikit demi sedikit, pandangan dunia luar sudah berubah. Ditambah lagi dengan kualitas Slapur yang memang sudah menurun. Yang Slapur alami sekarang adalah berubahnya pandangan khalayak ramai tentang Slapur. Jumlah murid yang terjun bebas adalah salah satu dari sekian fakta yang harus dihadapi.

Budaya, pola pemikiran dan gaya hidup sosial yang beragam. Belum lagi di tambah informasi tidak seimbang. Lebih banyak informasi tentang kejelekan Slapur dibandingkan dengan kebaikannya. Plus, tingkah laku beberapa oknum, semakin memperburuk keadaan. Tetapi, SAYA, sebagai alumnus slapur, masih bisa melakukan sesuatu.

Ya, Slapur adalah SAYA. Dan SAYA, saat ini, BISA ikut menentukan wajah slapur.

”Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Slapur agar bisa bangkit lagi seperti dulu?”, saya bertanya kepada rekan alumnus.

”5 tahun..”, jawabnya.

Mendengar jawaban itu, saya kembali bertanya, ”Kenapa harus 5 tahun? Bukankah itu terlalu lama?”.

Saat ini, pertanyaan saya, masih aktual kah jika pertanyaan saya di atas itu diajukan kembali? Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Slapur agar bisa bangkit lagi? Apa yang bisa SAYA lakukan agar Slapur bisa menjadi lebih baik?

Saya memiliki mimpi, Slapur akan menjadi sebuah kampus yang nyaman untuk ditinggali, yang manusiawi, yang asri, lengkap dengan berbagai fasilitas-fasilitas kemudahan pelayanan murid dan guru, tersedianya infrastruktur maupun prasarana yang baik, tersedianya fasilitas teknologi informasi, sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki moralitas mental yang baik, senantiasa menjadi tulang punggung pekerjaan Tuhan.

Mimpi saya itu, hampir sama seperti Rusdi Kirana yang ketika itu menjadi seorang calo tiket yang bermimpi untuk memiliki pesawat sendiri. Sama dengan mimpi Mark Zuckerberg ketika dia ditengah kesendirian di garasi, ingin membawa facebook menjadi Most Attrtactive Network Site dan akhirnya dimuat jadi sampul depan majalah Fortune. Sama pula dengan mimpi Badroni Yuzirman, founder Tangan Di Atas, yang ingin mewujudkan 10.000 pengusaha milyader di Indonesia.

Ya, SAYA bukan hanya saya. SAYA adalah masing-masing dari KITA SEMUA, baik itu alumnus, murid, guru, orang tua murid, ataupun yang lainnya. Marilah SAYA - masing-masing dari KITA SEMUA - ini bijaksana pada diri sendiri, dan jujur mengakui bahwa kita adalah para pemegang kekuasaan di Slapur. Konsekuensinya, tanggung jawab yang dimiliki pun juga sama - apapun label dan posisi yang melekat pada diri kita masing-masing. Aksi kecil, sekecil apapun itu, bisa menghasilkan Slapur yang lebih baik jika kita sendiri mempercayainya.

Kenyataan sosial juga tak akan pernah berubah jika kita sendiri tidak merubahnya. Pun, kampus kita yang agung ini semakin lama akan semakin hilang jika kita hanya berdiam diri. Dan Slapur akan menjadi sejarah yang membentang di pinggiran jalan utama yang menghubungkan antara pasuruan dan lawang.


from : http://alumni-slapur@yahoogroups.com

0 komentar:

Posting Komentar